pukul
Just another Student Blogs weblog
rss rss
rss buttons rss rss
10
Jul

Banyak kita lihat kepercayaan – kepercayaan yang ada dalam masyarakat yang berbau Mitos. Contohnya saja dalam prosesi pernikahan Sumbawa yang mana kita kenal dengan Brodak. Namun ketika ditanya kenapa harus ada ini jawaban mereka terkadang tidak logis. Menurut mereka ini sudah menjadi turun temurun dari nenenk moyang kita.

Mitos dapat berupa Cerita, Dongeng dan legenda. Sedangkan mitos itu sendiri merupakan ekspresi yang sangat hidup mengenai relasi manusia dengan ruang lingkup hidupnya. Secara keseluruhan mitos menjelaskan  tentang dirinya, asal Рusulnya, legeitimasi kekuasaan, nasib dan keberuntungannya. Tetapi tidak hanya dirinya, melainkan relasi dirinya dengan tempat tinggalnya, air, api, hujan, petir dan semuanya. Dalam mitos bukanlah tampil sebagimana adanya. Mitos merupakan entitas yang relasional dengan manusia. Dalam mitos sesungguhnya memiliki peran luar otonom atau paling sedikit dengan manusia.

Mitos dalam peradaban Rasionalisme disebut irasional (tidak ilmiah). Mitos lebih tepat disebut beyond rasinalitas, mengatasi kepastian, logis akal budi manusia. Mitos juga terkadang menghadirkan ketidakpastian (kemustahihlan).

Paradigma mitos adalah paradigma yang tidak mungkin dirangkaikan dalam jalan fikiran logika. Pengembaraan akal budi manusia berlanjut pada filsafat. metode apa yang kita gunakan untuk mendifinisikan filsafat itu sendiri? Peradaban Yunani awalnya mneyebut filsafat sebagai pengembaraan suatu akal budi manusia sesudah mitoligi ( tahapan proses perkembangan). Filsafat bukan wahyu, filsafat merupakan suatu pengumpulan pengembaraan. Filsafat dimulai dari keheranan, tetapi rasa heran bukanlah filsafat.

Hakikat Filsafat

Filsafat merupakan sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu yang mendalam mengenai ketuhanan alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan bagaimana hakikat sejenisnya yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia setelah mencapai pengetahuan tersebut.

Selain itu, filsafat adalah hasil pemikiran yang empiris, karena pernyataan itu lengkap. Mendefiniskan filasat sebagai pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan, Filsafat terdiri atas tiga cabang ilmu besar yaitu:

a).  Antologi ialah ilmu yang membicarakan hakikat segala sesuatu

b). Epistemologi ialah cara memperoleh  pengetahuan itu atau sumbernya

c). Aksiologi ialah ilmu yang membicarakan guna pengetahuan itu.

Adapun yang dikategorikan Antolgi seperti logika, metefisika, filsafat pendidikan, hukum, dan lain – lain. Adapun epistemologi hanya mencakupi satu bidang saja yaitu ilmu pengetahuan.

Salah satu ilmu filsafat yang masih baru filsafat parennial. Istilah parennial itu sendiri secara etimologi berasal dari bahasa latin yaitu parennis yang kemudian diubah kedalam bahasa Inggris yaitu parennial yang berarti kekal. Dengan demikian Filsafat parennial (philoshopia parennial) adalah filsafat yang dipandang menjelaskan segala sesuatu yang bersifat hakiki, menyambut kearifan dalam menjalani kehidupan yang benar. Hakikat yang menjadi inti pembicaraan filsafat parennial yaitu adanya yang suci (the sacred) atau yang satu (the one) dalam seluruh manifestasinya seperti dalam agama, filsafat dan seni. Jadi definisi Filsafat parennial adalah pengetahuan filsafat yang selalu ada (Roaman dan Hidayat dan Wahyuni. hal. xii, xxi)

Berkaitan dengan itu, Aldous Huxley yang dalam pertengahan abad 19 mempopulerkan istilah parennial melalui bukunya The Parennial Philoshopy menemukakan bahwa hakikat filsafat parenial ada tiga yaitu metafisika, psikologi dan etika (parennial philoshopy. 1945. hal. vii).

Pada abad 6 SM, ketika filsafat mulai berkembang di Yunani Kuno tepatnya di Miletos (pantai barat Turki), ilmu pengetahuan atau sains erat kaitannya dengan filsafat. Filsuf – filsuf awal seperti Tahles (624 – 546 SM), Anaximandros (611 – 546 SM), Anasimines (588 – 542 SM) berusaha memecahkan teka – teki yang mereka jumpai dalam kehidupan dunia fana ini. Soal yang mereka pahami adalah dunia, pertanyaan dasarnya; dari mana alam semesta ini berasal? apa yang menjadi asal usulnya?.

Pertanyaan ini bukan hanya untuk para filsuf. Sebelum abad 6 M pertanyaan ini sudah ada beserta jawabannya. Yang membedakan cara berfikirnya para filsuf dengan orang – orang sebelumnya adalah mereka mencari keterangan yang terdapat dalam alam itu sendiri. pusat perhatian mereka adalah dunia dan dihadapi dengan akal budi mereka.

Ketika mitos diganti logos dalam peradaban Yunani, kewibawaan para dewa dipertentangkanoleh kalangan rasio. Bagaimana mungkin para dewa yang menentukan hidup dan mati dan lain – lain sementara mereka berkelakuan persis sama dengan manusia. Para dewa saling iri dan cemburu, berebut pengaruh perempuan, slaing membunuh dan memperalat manusia.

Dari analisis para filsuf dalam proses indikasinya mereka berfikir memerlukan penalaran yang ilmiah. Penalaran itu sendiri merupakan proses berfikir yang membuahkan kebenaran maka proses itu harus dilakukan dengan cara tertentu.

Cara penarikan kesimpulan ada dua yaitu;

a). Logika induktif adalah logika yang memiliki hubungan erta dengan penarikan kesimpulan dari kasus – kasus individual yang bersifat umum.

b). Logika deduktif adalah logika yang berkaitan dengan penarikan kesimpulan dari hal – hal yang bersifat umum menjadi kasus yang bersifat khusus atau individual.

Dalam proses pengetahuan itu logika berperan pada posisi pertama yaitu jalan atau cara yang sehat untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Dalam perkembangan sejarahnya, logika dikenal dengan dua istilah yaitu:

1. Logika tradisional yaitu logika yang menekankan pada analisi bahasa, bercorak deduktif .

2. Logika modern adalah Logika yang bercorak induktif dan perkaya dengan simbol akan tetapi bahasa tidak ditinggalkan.

Karena logika adalah simbol dari pemikiran dan apa yang dipikirkan oleh manusia bisa disimbolkan dengan bahasa. itulah sebabnya kenapa logika mempunyai kedekatan dengan ilmu bahasa, meski logika bukan termasuk bagian dari ilmu bahasa.

Berdasarkan tema yang saya angkat, ini sangat menarik unutk dikaji secar mendetail. Karena bagaimanapun filsafat adalah induk ilmu pengetahuan. Maka untuk itu perlunya kita mempelajari ilmu ini, meskipun jumhur ulama mengharamkan untuk mempelajarinya.

ALHAMDULILLAH, TERIMA KASIH ANDA TELAH MEMBACANYA

Comment By: feri
July 10, 2010 @ 5:56 am

alhamdulillah

Leave a comment